Kiri ke kanan: Arifin Tasrif (Menteri ESDM), Ali Mulyagusdin (Direktur PT PEMA), Julfi Hadi (Direktur PT Pertamina Geothermal Energy) — penandatanganan komitmen kerja sama pengembangan panas bumi Seulawah Agam, 12 Juli 2023.
AiL1Catatan ini bersumber dari makalah ilmiah yang saya tulis, “The Application of Balanced Scorecard in Business Model Canvas Model to Link The Sustainable Energy to Enterprise Strategies”, dan diterbitkan dalam prosiding 2016 Asian Alumni Workshop on Resilience in Energy System (Ikatan Alumni Indonesia Universitas Flensburg, Jerman), saat saya masih di UKM Center FEB USK. Sepuluh tahun kemudian, saya tulis ulang sesuai konteks terkini Aceh. Tulisan ada tiga bagian. Ini bagian pertama.
Tahun 2016, saya menulis tentang sebuah kegelisahan sederhana: dunia usaha nyaris tidak pernah menjadikan keberlanjutan energi sebagai tujuan utama dalam perencanaan strategisnya. Globalisasi mempercepat perdagangan, mempercepat pertumbuhan ekonomi antarnegara, dan otomatis mempercepat konsumsi energi. Tapi neraca yang dipakai perusahaan untuk mengukur keberhasilan hampir selalu satu hal: uang.

Pertanyaannya waktu itu: alat apa yang bisa memaksa keberlanjutan (sustainable) duduk sejajar dengan laba dalam satu neraca yang sama?
Jawabannya, menurut saya, ada pada Balanced Scorecard milik Kaplan dan Norton (1996) yang ditautkan ke Business Model Canvas milik Osterwalder. Sepuluh tahun kemudian, di Aceh, pertanyaan itu tidak lagi teoretis. Sumur eksplorasi sudah dibor. Mitra sudah duduk di satu meja. Yang belum ada, baru satu: keputusan untuk memakai kerangka ini secara sungguh-sungguh.
Kenapa Neraca yang Hanya Bicara Uang Itu Berbahaya
Balanced Scorecard memaksa organisasi melihat dirinya dari empat sudut: Learning & Growth (kualitas SDM dan budaya belajar), Business Process (efisiensi proses internal), Customer (kepuasan dan relevansi bagi pelanggan), dan yang terakhir, Financial. Kaplan dan Norton menegaskan bahwa organisasi yang hanya mengejar angka finansial akan tampak sehat di laporan tahun ini, tapi keropos di empat atau lima tahun ke depan, karena investasi pada pembelajaran, proses, dan pelanggan baru terasa dampaknya belakangan.
Energi berkelanjutan punya nasib yang sama persis. Investasi pada panas bumi, tenaga air, atau efisiensi energi jarang menang di rapat anggaran tahunan, karena labanya baru terasa satu dekade kemudian. Business Model Canvas sendiri tidak otomatis menyelesaikan ini, ia hanya kanvas kosong berisi sembilan blok (mitra kunci, aktivitas kunci, proposisi nilai, hubungan pelanggan, segmen pelanggan, sumber daya kunci, saluran, struktur biaya, arus pendapatan). Tanpa Balanced Scorecard yang menaruh keberlanjutan sebagai salah satu neraca wajib, kanvas itu akan diisi dengan logika lama: yang penting biaya rendah dan laba cepat.
Destination Statement: Menulis Tujuan Sebelum Menulis Strategi
Generasi ketiga Balanced Scorecard, menurut Ronchetti (2006), punya satu terobosan penting: Destination Statement. Bukannya menyusun sasaran dulu baru merumuskan mau jadi apa organisasi ini nanti, generasi ketiga membalik urutannya; tulis dulu, sedetail mungkin, seperti apa organisasi ini pada satu titik waktu di masa depan. Baru dari situ sasaran-sasaran strategis diturunkan.
Ini yang menurut saya paling relevan hari ini. “Zero Emission 2045” tidak boleh berhenti jadi slogan kampanye atau baris di sambutan seremoni. Ia harus ditulis sebagai Destination Statement: target yang mengikat setiap RKA (Rencana Kerja dan Anggaran), setiap kontrak kerja sama, dan setiap kanvas bisnis BUMD yang ada di Aceh, dimulai dari sekarang, bukan nanti.
Sekarang: dari Kertas Kerja ke Peta Aceh
Yang berubah dalam sepuluh tahun terakhir bukan teorinya, tapi ketersediaan alatnya. Aceh menyimpan 15 titik panas bumi, tiga di antaranya sudah berstatus Wilayah Kerja Panas Bumi dan siap dikembangkan. Salah satunya, WKP Seulawah Agam, punya potensi hingga 320 MW berdasarkan survei geosciences awal, dikembangkan lewat kerja sama BUMD Aceh dengan Pertamina Geothermal Energy, dengan dua unit PLTP berkapasitas 55 MW yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar 2032.
Bandingkan ini dengan target ASEAN: kawasan ini menyasar 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi primer dan 35 persen dalam bauran kapasitas listrik pada 2025, lewat ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation. Data terbaru menunjukkan porsi energi terbarukan ASEAN sudah naik dari 27 ke 33 persen sejak 2015, mendekati target kapasitas, meski target energi primer masih tertinggal. Indonesia sendiri, lewat peta jalan NZE Kementerian ESDM, menyasar bauran energi terbarukan 87 persen pada 2060, sejalan dengan ambisi besar “Indonesia Emas 2045”.

Di sinilah letak peluangnya. Kalau Indonesia menaruh visi besarnya di tahun 2045 dan target net zero-nya di 2060, Aceh, dengan potensi panas bumi, air, dan biomassa yang belum tergarap penuh, punya alasan kuat untuk menulis Destination Statement yang lebih berani: Zero Emission 2045, lebih cepat lima belas tahun dari target nasional. Bukan karena gagah-gagahan, tapi karena modal alamnya memang mendukung dan karena BUMD Aceh sudah punya mitra strategis kelas nasional yang duduk satu meja negosiasi hari ini.
Tapi Seulawah baru akan berbunyi sekitar 2032. Ada satu kanvas lain di Aceh yang sedang ditulis blok demi blok, bukan di ladang panas bumi, tapi di permukaan sebuah waduk di ujung barat Sumatera. Ceritanya saya lanjutkan di tulisan berikutnya.
Sumber dan rujukan
- Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1996). Using the Balanced Scorecard as a Strategic Management System. Harvard Business Review, January-February.
- Ronchetti, J. L. (2006). An Integrated Balanced Scorecard Strategic Planning Model for Nonprofit Organizations. Journal of Practical Consulting.
- Mulyagusdin, A. (2016). The Application of the Balanced Scorecard in the Business Model Canvas Model to Link Sustainable Energy to Enterprise Strategies. Dalam Prosiding 2016 Asian Alumni Workshop on Resilience in Energy System, Ikatan Alumni Indonesia Universitas Flensburg.
- Kementerian ESDM RI (2022). Peta Jalan Net Zero Emission Sektor Energi 2060.
- IRENA & ASEAN Centre for Energy (2022). Renewable Energy Outlook for ASEAN.
- Berita Geothermal (2025). “Aceh Simpan 15 Titik Panas Bumi: Tiga Sudah Jadi WKP dan Siap Dikembangkan.”
- ANTARA News Aceh. “PEMA Komit Kembangkan Proyek Geothermal Seulawah.”

Tinggalkan Balasan