This page was originally written in Indonesian. This English version was translated automatically using machine translation (AI/Google engine) and may contain contextual inaccuracies. View the original Indonesian version.

Membangun Rumah Masa Depan

AiL0

tiny-home-featuredSalam,

Ibarat rumah, sebagaimana sering saya contohkan, dibangun karena kita memiliki konsep juga rencana. Rumah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada. Rumah adalah bentuk nyata dari sebuah rencana. Mulai dari merencanakan membeli lahan, pondasi, sampai menjadi sebuah rumah.

Kita, menempati rumah sebagai tempat bekerja, istirahat, mencari semangat, dan bahkan tempat kembali memikirkan pengembangan rumah yang sedang ditempati. Rumah menjadi sangat penting. Untuk menunjukan bahwa kita hidup. Rumah yang hidup terlihat dari aktifitas di dalamnya. Aktifitas rutin adalah tanda penting bahwa rumah tersebut ditempati.

Memberi minyak pelumas pada engsel pintu, mengganti kran air yang macet, memperbaiki tali jemuran yang putus merupakan kegiatan tambahan yang kita butuhkan untuk memastikan rumah bisa terus dihuni agar kegiatan rutin kita bisa berjalan baik. Dan rumah menjadi tetap nyaman untuk kita tempati.

Seandainya,

 Rumah, yang kita bahas di atas merupakan tamsilan dari usaha atau bisnis yang kita miliki atau kita bekerja di dalamnya. Maka penting untuk terus membagi waktu kerja kita menjadi 3 bagian penting: 20% untuk membuat rencana (konsep), 60% untuk pekerjaan rutin, dan 20% terakhir untuk merawat (pekerjaan tambahan).

Bahkan pada satu waktu porsinya bisa berbeda apabila kondisi usaha tersebut udah mulai tidak nyaman atau butuh dana lebih banyak dan lebih lama bertahan karena ada tantangan usaha ke depan yang lebih berat. Yang mungkin apabila diibaratkan di rumah nyata, akan ada anggota keluarga baru. Sudah pasti kita akan mempersiapkan penghasilan lebih besar dan ruangan yang lebih luas.

Bagaimana, setujukah kita untuk terus berfikir dan meluangkan waktu untuk memiliki rencana ke depan hendak seperti apa?

Setujukah kita untuk tidak pernah meninggalkan pekerjaan rutin?

Setujukan kita untuk mau menerima pekerjaan tambahan?

Atau kita rela melihat tempat kita berteduh dan mencari rejeki bocor sewaktu hujan, dan panas kering kerontang  ketika memasuki musim panas?

Rela kita bisnis atau usaha yang kita miliki atau kita bekerja di dalamnya mengalami terus menerus kerugian? Dan tidak bisa meningkatkan jumlah karyawan, tidak bisa meningkatkan jumlah toko dan stan? tidak mampu melanjutkan ke skala usaha yang lebih besar serta lebih luas?

Tidak punya keinginan dan mimpi yang lebih besar?

Bagaimanapun, perumpamaan rumah, menjadi sebuah tolak ukur bagi kita dalam menjalankan usaha atau bisnis kita sendiri.

Wassalam,

Mulya

 

Sumber foto : di sini

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Memuat artikel terkait...

Eksplorasi konten lain dari Mulyagusdin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca