This page was originally written in Indonesian. This English version was translated automatically using machine translation (AI/Google engine) and may contain contextual inaccuracies. View the original Indonesian version.

Humane Entrepreneurship dan Prinsip 3F

Ali Mulyagusdin berfoto bersama Hermawan Kartajaya, Ketua ICSB
AiL0

Catatan ini pertama kali saya tulis sebagai artikel di LinkedIn pada 13 Agustus 2015, setelah mengikuti 2015 ICSB ASEAN Initiative, seminar “Innovation and Globalization in Asia” di Gedung 88 Kasablanka, Jakarta. Saya tulis ulang dengan data terbaru untuk pelaku UMKM di Aceh hari ini, sebagai pengantar konsep Humane Entrepreneurship yang saya bahas di bawah.

Acara hari itu terlihat tidak biasa, dilakukan di ruang Philip Kotler Gedung 88 Kasablanka, dengan peserta dari Korea, India, Taiwan, Jepang, dan bahkan Eropa untuk mengikuti konferensi ICSB ASEAN. Keberagaman dan luasnya kawasan ASEAN memiliki daya tarik besar bagi berbagai isu komersial. Hampir semua negara di dunia memiliki hubungan bisnis dengan satu atau lebih negara anggota ASEAN.

Namun, keadaan yang tidak identik dan sulitnya geografis kawasan ASEAN membangkitkan tantangan tersendiri: bagaimana membangun UMKM yang inovatif dan mampu menjawab tekanan pasar dunia. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi meninggalkannya tanpa solusi hanya akan membuat keadaan lebih buruk.

2015 ICSB ASEAN Initiative menghadirkan seminar ini untuk memberi pandangan awal, ide, serta berbagai model dalam menyusun peta jalan agar UMKM ASEAN bisa berkembang dan naik kelas menjadi pemain besar dunia, seperti yang pernah dicontohkan Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura: bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju di kawasan masing-masing.

Humane Entrepreneurship

Salah satu model yang dibicarakan waktu itu adalah The Humane Entrepreneurship (Kewirausahaan Manusiawi). Konsepnya sederhana tapi mendasar: usaha harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan manusia, dan sebaliknya, manusia didorong untuk mampu beradaptasi dengan dinamika dunia usaha. Konsep ini pertama kali dideklarasikan secara global oleh International Council for Small Business (ICSB) pada 2016, dengan tujuan menyelaraskan penciptaan kekayaan ekonomi dengan penciptaan kualitas pekerjaan dan kesejahteraan sosial.

Kunci dari model ini ada pada sinergi antara Human Capital (Modal Manusia) dan Economic Knowledge (Pengetahuan Ekonomi). Dalam praktiknya, Human Capital bukan sekadar menganggap karyawan sebagai sumber daya atau alat produksi, melainkan sebagai pusat inovasi dan nilai tambah. Kim, El Tarabishy, dan Bae (2018), dalam Journal of Small Business Management, menyebut Humane Entrepreneurship sebagai penggabungan orientasi kewirausahaan konvensional dengan orientasi pada manusia, karyawan dan masyarakat, yang pada akhirnya melahirkan Economic Knowledge: keunggulan kompetitif yang tumbuh dari inovasi dan kreativitas manusia itu sendiri.

Slide seminar ICSB ASEAN Initiative 2015 tentang konsep Humane Entrepreneurship 1.0-3.0 / 2015 ICSB ASEAN Initiative seminar slide on the Humane Entrepreneurship 1.0-3.0 concept
Salah satu slide seminar. Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia.

Dua elemen ini tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya harus disempurnakan oleh etika dan ekosistem. Etika memastikan setiap keputusan bisnis tidak melanggar hak asasi, merusak lingkungan, atau memanipulasi pasar. Ekosistem menyediakan infrastruktur sosial dan kelembagaan yang membuat pertumbuhan itu bisa berjalan sehat.

Ekosistem sendiri, dengan variabel masyarakat (society) di dalamnya, menjadi perbincangan yang hangat dan panjang di forum itu. Tidak pernah mudah menghadapi masyarakat yang ekspektasinya terus berkembang. Namun, ada satu kesadaran fundamental yang saya bawa pulang dari forum itu: usaha dibangun dengan cara mengambil sesuatu dari masyarakat dan lingkungan, baik itu sumber daya alam, infrastruktur publik, maupun waktu dan tenaga kerja. Karena itu, sudah semestinya ada bagian yang dikembalikan kepada masyarakat.

Pemikiran ini, saya baru sadari belakangan, sejalan dengan teori Creating Shared Value (CSV) yang digagas Porter dan Kramer (2011) di Harvard Business Review. CSV menekankan bahwa daya saing perusahaan dan kesehatan komunitas di sekitarnya saling bergantung erat. Mengembalikan nilai kepada masyarakat, dengan begitu, bukan lagi sekadar kegiatan amal atau CSR yang reaktif, melainkan strategi bisnis inti yang menjamin keberlanjutan perusahaan itu sendiri.

Prinsip 3F: Fluid, Flexible, Fast

Agar mampu beradaptasi dengan pasar dan masyarakat yang berubah cepat, forum itu menyarankan penerapan tiga prinsip, 3F: Fluid, Flexible, dan Fast.

Fluid; cair. Bisnis tidak boleh kaku secara struktural. Seperti air, organisasi harus mampu mengalir dan menyesuaikan bentuk dengan wadah atau kondisi zamannya, menghancurkan birokrasi yang berbelit dan membangun budaya kolaborasi antardepartemen.

Flexible; fleksibel. Dalam menghadapi guncangan ekonomi atau perubahan tren sosial, strategi bisnis harus lentur. Belakangan saya menemukan istilah akademis untuk ini, Dynamic Capabilities, dari Teece (2010) di Long Range Planning, yang menyebutkan bahwa kelangsungan hidup perusahaan sangat bergantung pada kemampuannya merombak dan mengonfigurasi ulang aset serta kompetensi intinya, saat menghadapi lingkungan yang bergejolak (VUCA: volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).

Fast; cepat. Kecepatan mengambil keputusan dan mengeksekusi ide adalah mata uang di era digital. Organisasi harus mampu membaca data masyarakat dan pasar secara real-time, lalu merespons dengan solusi yang tepat guna, sebelum kehilangan momentum.

10 Tahun ICSB ASEAN Initiative: Aceh Hari Ini

Satu dekade setelah forum itu, saya melihat prinsip 3F ini justru semakin relevan, bukan berkurang. Ketika kami merancang RAMPAGOE untuk merangkai UMKM Aceh dari 23 kabupaten/kota yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, tantangan intinya sama persis: bagaimana membangun ekosistem yang cukup cair untuk menampung keberagaman produk, cukup lentur untuk menyesuaikan skala usaha yang berbeda-beda, dan cukup cepat merespons pasar yang bergerak jauh lebih dinamis dibandingkan dengan tahun 2015.

Bedanya, hari ini kita punya lebih banyak alat untuk mewujudkannya, dari pembiayaan syariah, akses pasar digital, sampai kolaborasi lintas BUMD. Yang tidak berubah adalah prinsip dasarnya: usaha yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling humanis dan paling cepat beradaptasi. Bisnis yang bertahan paling lama, pada akhirnya, adalah bisnis yang paling memanusiakan manusia; baik manusia sebagai sumber daya internal usaha maupun manusia yang menjadi mitra dan masyarakat.

Sumber dan rujukan ilmiah:

  1. Kim, K. C., El Tarabishy, A., & Bae, Z. T. (2018). Humane Entrepreneurship: How Focusing on People Can Drive a New Era of Wealth and Quality Job Creation in a Sustainable World. Journal of Small Business Management, 56(sup1), 10-29.
  2. Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2011). Creating Shared Value. Harvard Business Review, 89(1/2), 62-77.
  3. Teece, D. J. (2010). Business Models, Business Strategy and Innovation. Long Range Planning, 43(2-3), 172-194.

Tanggapan

  1. […] Kalau kita karyawan, maka konsumen kita adalah pemberi kerja, atasan, dan rekan kerja. Mereka semua adalah sumber informasi, inspirasi dan inovasi. Kemampuan kita memberikan yang terbaik adalah kunci keberhasilan kita menjadi Intrapreneur. […]

  2. […] Entrepreneur percaya mampu mengubah rongsokan menjadi “emas”.  Percaya mampu meningkatkan kepercayaan diri. Percaya tidak ada barang yang buruk. Percaya mampu mengubah keadaan yang buruk menjadi lebih baik. Percaya bahwa pekerjaan yang berat akan menjadi mudah. Percaya bahwa kita akan mendapatkan hasil yang hebat. […]

  3. […] Buy-in merupakan istilah yang sering digunakan oleh para manajer perusahaan besar. Mereka ingin memastikan bahwa bangunan gagasan untuk kebaikan perusahaan tidak hanya dimiliki oleh sedikit orang pada posisi top management, namun juga menjadi prestasi bagi semua yang akan terlibat. Entrepreneur akan melihat para anggota tim berkontribusi aktif, memberikan seluruh energinya, serta menjaga agar gagasan berjalan dengan baik — bahkan menjaganya seakan-akan mereka adalah pemilik dari usaha tersebut. […]

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Memuat artikel terkait...

Eksplorasi konten lain dari Mulyagusdin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca