This page was originally written in Indonesian. This English version was translated automatically using machine translation (AI/Google engine) and may contain contextual inaccuracies. View the original Indonesian version.

Membangun Entrepreneurial Spirit

Ali Mulyagusdin berdiskusi dengan Kepala Perwakilan Bank Mandiri Sumbagut saat menjadi konsultan Wirausaha Muda Mandiri
AiL0

Entrepreneur percaya mampu mengubah rongsokan menjadi “emas”.  Percaya mampu meningkatkan kepercayaan diri. Percaya tidak ada barang yang buruk. Percaya mampu mengubah keadaan yang buruk menjadi lebih baik. Percaya bahwa pekerjaan yang berat akan menjadi mudah. Percaya bahwa kita akan mendapatkan hasil yang hebat.

Semua semangat tersebut terkait dengan MindSet, Attitude, Skill, dan Knowledge (MASK).

Segala sesuatu diawali oleh mindset kita. Pola pikir. Bagaimana kita berpikir. Bagaimana cara kita memandang dan menilai sesuatu. Untuk mengubah hal yang tidak ada nilainya menjadi “emas”, pola pikir kita tidak bisa biasa-biasa saja. Kita harus merombak total cara kita memandang masalah. Dan ini semua diawali dari pikiran. Kita harus mulai merubah cara berfikir yang menyatakan hidup harus tanpa tantangan menjadi hidup harus penuh tantangan. Harus ada tugas atau pekerjaan yang berat.

Ukuran pekerjaan yang penuh tantangan dan berat adalah kita berfikir keras untuk menyelesaikannya. Sehingga saat kita telah selesai kita mampu “merayakan”nya dengan GREAT WORK. Begitu kata Steve Jobs.

Bersedia menerima pukulan kecil berkali-kali untuk kekuatan kita saat menerima pukulan yang kuat dan tidak tumbang. Kita semua mungkin tahu bagaimana cara melayangkan pukulan tinju yang tepat. Tapi tetap saja kita bukan seorang petinju.

Petinju adalah yang turun ke ring tinju. Dan tidak pernah menyerah meskipun sakit dan susah. Ini namanya semangat yang muncul dari sejak dalam pikiran. Tidak menyerah dari sejak dalam pikiran. All about Mind Set.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap? Thomas Edison, seorang businessman dan penemu (inventor) mengatakan; “saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil”.

Ini Attitude seorang Entreprenuer.

Tidak menyerah.

Tetap berusaha dengan waktu dan tenaga yang dimilikinya. Ada satu hal penting untuk diketahui, pastinya dia mencatat semua hal yang dilakukannya dengan rapi dan teliti. Sehingga Edison bisa menyampaikan kepada kita cara apa yang berhasil dan cara apa yang akan membawa kita kepada kegagalan.

Membangun Entrepreneurial Spirit
Membangun Entrepreneurial Spirit Sumber foto : https://pxhere.com/en/photo/1026034

Dia bukan penceramah tanpa praktek. Dia pelaku. Yang tidak mengenal Edison, mungkin bisa mematikan lampu sekarang. Karena dia penemu bola lampu. Dan, untuk diingat, dia gagal ribuan kali dalam mencoba bola lampu. Tapi apakah dia berhenti? TIDAK. Karena kalau dia berhenti, mungkin kita masih menggunakan penerangan bahan bakar minyak tanah hari ini. Jangan pernah menyerah secara sikap dan tindakan. Jangan tunjukkan sikap menyerah dan menolak. Semangat, tegak, dan sonsong semua tantangan serta tugas besar. Itu Attitude yang Berjiwa Entrepreneur.

Berikutnya, bagaimana kita menerima pekerjaan yang berat untuk kita rubah menjadi hasil yang maksimal? Mutlak jawabannya: SKILL. Keahlian. Di sini pembuktian bahwa kita tidak hanya berhenti berfikir dan berusaha. Namun juga belajar meningkatkan kemampuan dari setiap kegagalan yang kita temui. Ini hukumnya wajib. Mutlak harus dilakukan. Memiliki dan mengasah kemampuan.

Apa skiil terbaik? Kata Peter Drucker: Kemampuan untuk menggunakan sumberdaya yang ada dengan cara yang baru untuk menghasilkan karya terbaik. Itu skill. Apabila kita mengerjakan hal yang sama setiap waktu bahkan setiap tahun dengan cara yang sama berarti kita tidak mencatat dan tidak meningkatkan keahlian. Lupakan menjadi entrepreneur atau innovator apabila ini tidak segera mencoba melakukan pekerjaan dengan cara yang baru.

Ubah posisi duduk, ubah alat kerja. ubah cara menyimpan data. Ubahlah. Dan pelajari cara-caranya. Buku banyak di pustaka. Orang ahli banyak untuk ditanya. Berubahlah!

Dan yang terakhir adalah Ilmu. Knowledge. Kita butuh ilmu. Dengan ilmu, kita bisa mengukur risiko dan tahu bagiamana berhadapan dengan risiko. Menerima tantangan, tidak menyerah, dan memiliki skill tapi tidak memperhitungkan risiko itu bukan berani. Tapi konyol.

Setidaknya ilmu yang kita miliki meskipun tidak dari lembaga pendidikan formal, adalah hasil dari catatan-catatan yang kita buat. Tidak membuka kembali ingatan atas semua yang pernah kita lakukan, itu bodoh. Itu akan menjadikan kita orang tidak berilmu.

Tapi jangan melompat langsung ke Ilmu. Karena ilmu tanpa mindset, tanpa attitude, dan tanpa skill hanya akan menjadikan kita pribadi yang monoton. Membosankan.

Untuk memulai dan mengembangkan usaha serta pekerjaan yang sedang kita lakukan. Pakailah MASK: MindSet, Attitude, Skill, dan Knowledge, agar kita layak disebut Entrepreneur. (Ali Mulyagusdin)

Tanggapan

  1. […] tentang bagaimana mengubah rongsokan menjadi “emas”. Mengubah cara pandang. Mengubah cara berfikir. Dan mengubah secara total kaidah-kaidah […]

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Memuat artikel terkait...

Eksplorasi konten lain dari Mulyagusdin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca