This page was originally written in Indonesian. This English version was translated automatically using machine translation (AI/Google engine) and may contain contextual inaccuracies. View the original Indonesian version.

Semangat “Entrepreneur Inside”

Ali Mulyagusdin menghadiri Mandiri Creativepreneur Corner 2014 di Jakarta
AiL0

Potensi dan kesempatan itu hanya akan kita lihat apabila ada keinginan untuk Memulai dan Mengembangkan. Tidak pernah berhenti bergerak untuk memulai, dan tidak pernah puas dengan hasil yang baik, terus mencari hasil yang lebih baik.

Ini tentang bagaimana mengubah rongsokan menjadi “emas”. Mengubah cara pandang. Mengubah cara berfikir. Dan mengubah secara total kaidah-kaidah kuno tentang pengelolaan SDM, Marketing dan Usaha.

Kemauan dan kemampuan kita melihat peluang, menghadirkan inovasi serta terus menerus memperhatikan risiko dan tantangan di hadapan mata, akan membawa kita kepada “emas”.

Sebelum kita lihat lebih dalam. Jawab pertanyaan ini: Apa harapan dan cita-cita kita saat ini harta yang kita miliki hanya ijazah dan satu kendaraan roda dua bekas?

Tak usah dijawab dulu.

Lester C Thurow, seorang ekonom dan mantan Dekan MIT Sloan School of Management, mengatakan bahwa tanpa wirausahawan kondisi perekonomian akan menjadi buruk dan lemah.

Apabila kita melihat ke sekeliling kita banyak pengangguran, barang yang dijual tidak laku, atau bahkan kita sendiri tidak mampu membeli barang kita inginkan, maka ini tandanya kita kekurangan pengusaha yang berjiwa wirausaha atau dikenal dengan istilah Entrepreneurship.

Entrepreneur Inside (1)

Bagi yang sudah bekerja, semangat Entrepreneurship yang diterapkan dalam pikiran dan tindakan karyawan dikenal dengan Intrapreneurship. Sama saja secara konsep, perbedaanya hanya terletak pada tanggung jawab modal di saat memulai usaha.

Jiwa-jiwa Entrepreunship dan Intrapreneurship hari ini dibutuhkan di semua sektor usaha. Untuk memastikan pertumbuhan jumlah usaha dan memastikan usaha yang telah ada terus bertahan, berkembang, dan menjadi perusahaan raksasa.

Di samping itu, harus diketahui, tidak semua pemilik usaha mikro dan kecil masuk dalam kategori Entrepreneurs (wirausahawan), kata Peter Drucker. Bisa jadi yang bersangkutan hanya pedagang atau hanya pengusaha yang mengambil margin laba dari aktifitas bisnis yang sudah berlangsung lama.

Tanpa memikirkan inovasi dan menerapkan cara berfikir yang membuka peluang. Tidak memberikan nilai tambah yang berarti. Tidak berupaya merubah “barang biasa saja” menjadi “barang luar biasa”. Maka, belum disebut berjiwa Entrepreneurship.

Apa kaitannya Entrepreneuship dengan pertanyaan di atas tentang harapan dan cita-cita?

Karena setiap pribadi kita punya potensi dan kesempatan untuk mengurangi angka kemiskinan, membantu orang lain lebih baik dengan membuka lapangan kerja, dan tentunya berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi daerah bahkan nasional.

Potensi dan kesempatan itu hanya akan kita lihat apabila ada keinginan untuk Memulai dan Mengembangkan. Tidak pernah berhenti bergerak untuk memulai, dan tidak pernah puas dengan hasil yang baik, terus mencari hasil yang lebih baik.

Itu disebut semangat “Entrepreneur Inside”.

Menghadirkan Entrepreneur Inside, harus diawali dengan kemauan untuk melakukan eksplorasi. Mencari dan terus mencari, meskipun telah menemukan sesuatu tapi tetap mencari. Itu disebut eksplorasi. Dan eksplorasi itu letaknya di pikiran dengan terus menerus bertanya mengapa dan bagaimana. Maka alat kerjanya bukan hanya satu indera, tapi semua indera untuk mengumpulkan informasi sebagai “makanan” utama pikiran agar tetap bisa bekerja.

Sehinga muncul imaginasi yang dihasilkan dari kreatifitas berfikir. Imajinasi adalah anugerah Allah SWT yang tidak ada kelemahannya. Logika masih ada kekurangannya. Tapi imajinasi tidak. Imajinasi lah yang membawa umat manusia hari ini bisa memetakan luas dan nama-nama bintang di alam semesta. Yang memungkinkan manusia berpergian menggunakan pesawat dan kereta api cepat. Anugerah yang harus selalu kita syukuri.

Ok?

Stop.

Sebentar.

Coba kita ingat lagi; bahwa modal kita tadi hanya ijazal dan motor bekas. Apakah kita miskin? Apakah kita kesusahan? Apakah keadaan kita menyedihkan? TIDAK. Apabila kita terus menggunakan pikiran untuk kreatif. Maka modal kita lebih dari cukup. Sungguh, LEBIH DARI CUKUP.

Pikiran yang kreatif, mampu membawa kita keluar dari aktifitas monoton, yang mungkin kegiatan tersebut malah sudah tidak mumpuni lagi menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Penghargaan terbesar untuk orang yang mampu berfikir kreatif adalah di sebut entrepreneur/ intrapreneur. J.A. Schumpeter menyatakan bahwa wirausahawan adalah seorang Innovator. Yang mampu menghadirkan salah satu dari:

  1. Produk Baru
  2. Metode Baru
  3. Pasar Baru
  4. Penggunaan Bahan Baku Baru
  5. Re-Engineering/ Re-Organisasi Proses Manajemen Usaha

Meskipun tidak satu pun dari definisi di atas mampu kita lakukan, setidaknya kita wajib berupaya sekuat tenaga dan pikiran untuk mengarah ke sana. Karena itu berupaya untuk ber-inovasi adalah bahan bakar. Yang mampu membakar ketakutan kita menjadi keberanian untuk memulai dan mengembangkan. Apasaja. Boleh jadi memulai dan mengembangkan kemampuan diri. Atau, memulai dan mengembangkan metode baru di perusahaan tempat kita mencari kerja.

Innovator adalah orang yang melakukan inovasi. Pelaku usaha dan pekerja yang mampu menghadirkan perubahan yang perlahan-lahan menjadi perubahan yang luar biasa adalah Innovator.

Maaf, di sini tidak disebut innovator itu adalah orang yang banyak hartanya, banyak relasinya, banyak minat dan bakatnya. Karena ke tiga hal tersebut belum menjamin yang bersangkutan bisa menjadi innovator bahkan menjadi entrepreneur.

 Kenapa? Kita akan lihat prinsip-prinsip apa yang harus dipenuhi untuk mengubah minat/ bakat, modal, dan relasi menjadi Entrepreneur.

Tanggapan

  1. […] Pertama sekali adalah lingkungan sekitar. Kita tidak bisa memanfaatkan Peluang usaha yang bertentangan dengan hukum, norma dan budaya lingkungan sekitar. Itu pasti. Meskipun kita sering melihat orang mengambil peluang ini dengan risiko tinggi. Seperti menjual “barang haram”. Tetap saja peluang ini tidak akan pernah menjadi peluang bagi yang telah mengaplikasikan “Entrepreneur Inside”. […]

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Memuat artikel terkait…

Eksplorasi konten lain dari Mulyagusdin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca