This page was originally written in Indonesian. This English version was translated automatically using machine translation (AI/Google engine) and may contain contextual inaccuracies. View the original Indonesian version.

Mitfahren dan SIM

Jalan tol Autobahn di Jerman
AiL0

Malam sebelum Idul Adha 1430 H, saya menumpang mobil dari Leipzig menuju Dresden lewat sebuah layanan bernama Mitfahrgelegenheit, semacam ride-share ala Jerman, di mana pengemudi membagi kursi kosong di mobilnya dengan penumpang lain untuk berbagi biaya perjalanan.

Pengalaman Luar Negeri: Jerman

Pengemudi malam itu, seorang perempuan paruh baya yang saya panggil Frau Wagnitz, melaju di jalan tol (Autobahn) dengan kecepatan yang bagi saya nyaris tak masuk akal, sempat menyentuh 180 km/jam. Yang membuat saya justru merasa aman, bukan takut, adalah bagaimana kecepatan tinggi itu diimbangi oleh disiplin lalu lintas yang luar biasa rapi: setiap pengendara menjaga jarak, disiplin jalur, dan saling memberi ruang tanpa perlu klakson atau adu cepat.

Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa berhenti membandingkan pemandangan itu dengan kondisi lalu lintas di kampung halaman. Dalam beberapa tahun terakhir sebelum keberangkatan saya ke Jerman, saya kehilangan beberapa kawan karena kecelakaan lalu lintas, di Bireuen, di kawasan Seulawah, di Bener Meriah. Kecelakaan-kecelakaan yang, jika ditelusuri, seringkali bukan semata soal nasib, melainkan bermuara pada satu hal: sistem yang tidak cukup serius menyiapkan pengendara sebelum mereka turun ke jalan.

Dua Cara Berbeda Melahirkan Pengemudi

Perbedaan itu terlihat jelas ketika saya membandingkan proses mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) di kedua negara. Di Jerman, memperoleh SIM adalah proses yang panjang dan tidak murah, memakan waktu enam hingga delapan minggu, dengan biaya yang bisa mencapai sekitar 1.500 Euro, mencakup puluhan jam teori dan praktik yang ketat. Namun sebagai imbalannya, SIM tersebut berlaku seumur hidup, dan yang lebih penting, pengemudi yang lulus benar-benar telah teruji kompetensinya.

Bandingkan dengan pengalaman saya sendiri mendapatkan SIM pertama di Indonesia pada usia 18 tahun, sebuah proses yang jauh lebih singkat, jauh lebih murah, dan terus terang, dengan celah “penyesuaian” administratif yang membuat kompetensi mengemudi yang sesungguhnya jarang benar-benar teruji.

Ini bukan sekadar soal birokrasi. Ini soal bagaimana sebuah negara memaknai keselamatan jiwa warganya di jalan raya. Proses yang ketat di awal adalah investasi yang mencegah kehilangan yang jauh lebih mahal di kemudian hari, termasuk kehilangan nyawa kawan-kawan yang seharusnya masih bisa saya temui hari ini.

Semoga suatu hari, lalu lintas yang ramah dan aman bagi penggunanya juga hadir sepenuhnya di bumi kita, Aceh tercinta.

Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Memuat artikel terkait...

Eksplorasi konten lain dari Mulyagusdin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca