
Salam,
Hari itu, Hodja baru saja tiba. Di sebuah desa yang nyaman, aman, bahkan, hampir semua penduduknya saling kenal. Begitu tenteramnya desa itu. Dan, menetaplah ia di desa itu. Kurang lebih, 2 minggu lamanya.
Ada sebuah pemandangan ganjil di matanya. Akan kebiasaan masyarakatnya. Mereka suka sekali menggali tanah, sekitar 2 hasta dalamnya. Tujuannya untuk mengubur koin emas hasil perdagangan atau kerja keras mereka. Lalu menyusun batu di atas tumpukan tersebut. Semakin banyak tumpukan susunan batu di halaman seseorang, maka bisa dipastikan semakin banyaklah tumpukan emas orang tersebut.
Lantas, Hodja pada suatu pagi yang cerah, ditemani kicau burung pipit menggali juga halamannya. Tapi yang dikubur adalah batu kerikil! Melihat ini, masyarakat yang kebetulan lewat heran dan tidak lama kemudian berkumpullah sebagian besar penduduk tepat di halaman rumah yang ditempati oleh Hodja.
“Wahai Hodja terhormat, apa yang engkau lakukan? Bukan kerikil yang ditanam. Melainkan koin emas” Ungkap seorang mengingatkan. Nasreddin Hodja, tanpa menolehkan pandangannya menjawab:
“Kalau hanya untuk kamu tumpuk dan kamu tanam, lalu apa bedanya kerikil dengan emas? Sama-sama tidak bisa digunakan atau dibelanjakan”.
Seketika, masyarakat sadar. Mereka kurang mendermakan hartanya. Keasyikan mengumpulkan dan membanggakannya. Tanpa menghasilkan apapun. Tak jauh berbeda dari kerikil Hodja
Apa yang bisa kita ambil hikmah dari cerita ini?
Pertama, Ilmu jangan disimpan. Bagikan. Ceritakan.
Kedua, Harta jangan disayang-sayang. Dermakan.
Ketiga, Pekerjaan jangan ditumpuk. Selesaikan. Delegasikan.
Begitu pula dengan dokumen kerja kita. Tidak ada gunanya ditumpuk di atas atau di bawah meja, di dalam laci, di lemari. Itu tidak menunjukkan kita super sibuk dan super banyak kegiatan. Semua dokumen itu harus dipelajari. Disirkulasikan atau dibagikan apabila dia berhubungan dengan pihak lain. Agar bermanfaat. Agar bisa diambil keputusan dan kebijakan. Agar tidak menjadi tumpukan emas dalam tanah.
Apabila sudah selesai, baru disimpan sebagai acuan dan ingatan bila-bila perlu dievaluasi. Yang disimpan pun, dokumen yang telah disortir. Dirapikan. Diberi judul. Dipastikan tidak berdebu atau rusak. Apalagi yang berhubungan dengan uang atau kepentingan orang banyak.
Nah, dokumen banyak bertumpuk. Bukan tanda kita orang penting atau orang sibuk. Itu tanda kita orang tidak mau berbagi, tidak mau menderma, dan tidak mau menyelesaikan tugas.
Selamat Beraktivitas. Sehat dan Semangat Selalu. Hayo mari kita sama-sama berubah. Lebih baik. Pribadi Hebat dan Usaha Gemilang!!!
Wassalam
Mulya
Note ;
Nasreddin Hodja (Nasruddin Hodja) seorang filsuf, cendekia, dan hakim pada era Kekhalifahan di Baghdad. Banyak pelajaran hebat yang dia berikan dalam anekdot dan candaan ringan untuk menyelesaikan permasalahan.
Sumber foto di sini

Tinggalkan Balasan