Aku Tidak Bodoh

Gedung Neues Augusteum, Universitas Leipzig, Jerman

Ada momen dalam hidup ketika kita merasa paling bodoh sedunia. Bagi saya, momen itu datang di ruang kuliah kampus Universitas Leipzig, Jerman, saat mencoba memahami sesuatu yang bernama Markov Transition Matrix.

Pengalaman Luar Negeri: Jerman

Saat itu saya sedang mengikuti program SEPT (Small Enterprise Promotion and Training) di Universitas Leipzig. Salah satu mata kuliah menuntut pemahaman statistik dan model probabilitas yang, jujur saja, sulit sekali dipelajari sejak masa kuliah S1. Berkali-kali saya membaca ulang materi, bertanya kepada teman sekelas, bahkan begadang menatap rumus yang sama, namun pemahaman itu tak kunjung datang.

Di titik itu, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah saya memang tidak cukup pintar untuk berada di sini?

Butuh waktu untuk menyadari bahwa pertanyaan itu keliru arah. Ada perbedaan mendasar antara tidak pintar dan bodoh. Tidak pintar berarti belum menguasai sesuatu, sebuah kondisi sementara yang bisa diperbaiki dengan usaha. Bodoh adalah berhenti mencoba karena sudah lebih dulu menyerah pada anggapan bahwa diri sendiri tidak mampu.

Semua orang pernah, dan akan selalu, menghadapi hal yang belum mereka kuasai. Insinyur baru mungkin belum pintar dalam presentasi. Akuntan senior mungkin belum pintar dalam coding. Itu bukan kebodohan, itu proses alami dari belajar. Kebodohan justru muncul ketika seseorang berhenti mencoba, membiarkan rasa tidak mampu itu menjadi keputusan final.

Pelajaran dari Markov Transition Matrix di Leipzig itu, pada akhirnya, bukan tentang statistik. Ia mengajarkan saya bahwa kesediaan untuk terus mencoba, walau lambat, walau berulang kali gagal paham, adalah pembeda antara seseorang yang sedang belajar dan seseorang yang telah menyerah.

Saya memang tidak selalu menjadi yang paling pintar di kelas. Tapi saya tidak pernah berhenti mencoba. Dan itu artinya, saya tidak bodoh.

Leave a Reply

Discover more from Mulyagusdin

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading