Pemilihan Kepala Daerah 2017 serta tarik-ulurnya pengesahan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Aceh (APBA) 2017 telah menyerap energi yang besar. Meskipun sekarang masih awal tahun. Rakyat Aceh berusaha dengan teliti memahami program kerja enam kandidat calon gubernur dan juga waktu bersamaan menikmati “manuver” berbahaya Plt. Gubernur untuk menempuh jalur Pergub untuk APBA. Dua hal besar membutuhkan perhatian ekstra masyarakat Aceh demi memastikan tahun 2017 adalah tahun yang baik untuk Aceh akan datang. Minimal satu sampai lima tahun berikutnya.
Aceh yang terkenal dengan kekayaan budaya, adat-istiadat, serta sumber daya alam sudah tentu membutuhkan kepastian pembangunan berkelanjutan dalam bidang sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta energi. Semestinya ketiga hal ini menjadi perhatian utama bagi rakyat Aceh. Aceh semakin kuat, mampu mengurusi diri sendiri. Kembali menjadi manfaat bagi daerah lainnya yang berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana panggilan “sayang” Presiden Sukarno_ Daerah Modal.
Sedikit saja. Hanya sebagai pelajaran politik anggaran. Perlu diketahui oleh masyarakat Aceh semuanya, bahwa sesungguhnya yang diperebutkan, para calon pemimpin ini dan pergulatan sengit andara DPRA dan Plt. Gubernur, adalah angka-angka yang yang tertera dalam APBA. Itu saja. Sebagai contoh saja bagaimana Pilkada DKI menjadi hingar bingar sampai ke pelosok kampung seluruh Indonesia, adalah karena kekuasaan untuk mengelola jumlah Rupiah yang sangat besar. Dalam pandangan ini, pembangunan hanya diwakili oleh angka-angka uang saja. Hanya membaca mata anggaran dan nilainya. Kemudian di-eksekusi dengan cara yang “baik budi” atau “bocor” sana-sini oleh para SKPD/SKPA. Inilah syahwat sebenarnya dalam politik.
Baiklah, ada hal yang lebih penting dibahas. Kembali kepada bagaimana seharusnya Aceh menatap ke depan. Aceh melangkah perlahan, tegas, dan pasti menuju pembangunan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Tentu para Calon Gubernur Aceh 2017 serta anggota DPRA dan Plt. Gubernur Aceh tidak boleh melihat angka anggaran hanya sebatas tulisan di atas lembar-lembar kertas. Mereka harus melihat jauh melampui itu semua. Mereka harus mengganti pakaiannya mejadi rakyat. Bahkan meminjam “tubuh dan pikiran rakyat”, untuk mengetahui apa yang sebenarya dibutuhkan dan apa yang seharusnya dilakukan. Masyarakat Aceh pasti akan memilih Gubernurnya yang berfikir serta bekerja seperti ini.
Ingat, bukan pemimpin yang hanya mencari waktu luang di Aceh. Bukan pemimpin yang sudah menyiapkan rumah masa depan di luar Aceh. Bukan pemimpin yang sekedar memamerkan gelar akademis, kealiman, serta pengalaman yang sesungguhnya tidak ada hubungan dengan kemampuan untuk mengelola budaya, adat-istiadat, serta kekayaan alam Aceh.
Sumber Daya Manusia; Penting. Awal dari sebuah pembangunan daerah adalah kekuatan dari tenaga dan pikiran yang dimiliki oleh tempatan. Kita ingatlah bahwa daerah, apalagi dalam kondisi ekonomi yang buruk, bukanlah perusahaan. Sehingga bisa merekrut tenaga kerja luar (asing) baik ahli (pikiran) ataupun kasar (tenaga) semudahnya saja. Karena apabila ini dilakukan maka akan terjadi leakage dalam economy impact yang diharapkan.
Perkuat insani yang ada di Aceh. Keimanannya, Kesehatannya, Keilmuannya, dan Keterampilannya. Bangun SDM yang tinggal di Aceh, yang membayar pajak di Aceh, yang kehidupannya bersentuhan langsung dengan aktifitas ekonomi tingkat primer, dan yang bersedia untuk membeli lebih banyak produk/jasa yang dihasilkan oleh Aceh sendiri.
Ini bukan pekerjaan mudah. Menulis memang lebih mudah dari melaksanakan. Namun apabila tidak dimulai memikirkan strateginya maka hal ini tidak akan pernah terlaksana. Aceh akan terus “diperkosa”. Ingat, Aceh memiliki budaya yang terbuka, adat-istiadatnya “peumulia jamee“, dan kekayaan alamnya masih luas belum terjamah. Hal ini bukan untuk memisahkan antara penduduk Aceh dengan non-Aceh, yang pada dasarnya telah dihuni dan dimiliki oleh berbagai macam etnis dan agama, namun untuk memastikan tidak larinya dana dari dalam ke luar. Ini diajarkan dan bisa ditemui dengan mudah dalam materi ekonomi pembangunan The Early Stage of Industrial Development. Korea Selatan dan Taiwan menerapkan ini dengan kuat pada tahun 1960an. Kita sering lupa hal ini. Gubernur Aceh ke depan tidak boleh lupa. Harus memperkuat sumber daya manusia Aceh. Manusia yang hidup dan belanja di pasar-pasar yang ada di Aceh. Satu indikator penting. Catat.
Sarana dan Prasarana; Harus. Jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara, pasar, sanitasi, kereta api, dan semua infrastruktur yang mendukung aktifitas pertanian, perikanan, dan perkebunan. Infrastruktur mendukung kegiatan mencari, mengumpulkan, memindahkan, dan memasarkan hasil laut dan darat harus berkualitas dan memadai. Ini butuh intervensi pemerintah, yang tentunya pemerintah yang bersih dan transparan. Apabila pemerintah “kotor” suka bermain “jorok”, bukan hanya menghabiskan anggaran pemerintah pusat untuk menangkap dan menahan yang bersangkutan, namun juga merugikan masyakarat karena kualitas infrastruktur yang buruk.
Intervensi pemerintah, mungkin bekerjasama dengan investor, akan membuka jalan yang lebar untuk mempersiapkan masa take-off serta externalisasi pasar. Peraturan-peraturan yang memberatkan dan tidak ada maknanya harus dipangkas, apabila mungkin bahkan dihilangkan dengan tetap memperhatikan urgensinya. Ini termasuk untuk perbankan lokal seperti Bank Aceh.
Sudah cukup bank lokal memberikan kredit konsumtif yang besar untuk aparatur pemerintah hanya karena anjuran manajemen risiko. Dorong dan paksa para staff yang berdasi serta memilki kemampuan manajemen mumpuni (maklum karena karyawan bank) untuk terjun ke lapangan. Menemani para pengusaha lokal, mendampingi para entrepreneur muda yang rela berkorban tidak memakai pakaian rapi menyinsingkan tangan serta tidak cukup tidur untuk memastikan Aceh tetap memiliki pengusaha dan saudagar handal di masa akan datang. Niat sebagaimana megah pada masa dulunya. Mereka para pekerja untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Mereka pahlawan.
Iya. Jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara, pasar, sanitasi, kereta api, dan semua infrastruktur yang dibangun harus bisa dilalui, dimanfaatkan oleh para pengusaha Aceh. Pengusaha pertanian, perikanan, perkebunan. Yang pada waktunya akan mendorong kehebatan para pengusaha jasa dan produksi lainnya di Aceh. Mengapa? karena daya beli masyarakat desa kuat. Bukan kuat karena diberikan pinjaman oleh rentenir yang mengharuskan mereka kehilangan lahan mencari nafkah. Tapi kuat, karena hasil yang mereka dapat dari laut dan darat telah mampu meningkatkan pendapatan per kapita. Sebentar, yang dimaksud pengusaha bukan middle trader, bukan tengkulak. Termasuk bukan makelar proyek. Catat.
Energi; syarat. Selagi mencari dan membangun pembangkit energi ramah lingkungan, bukan berarti Aceh tidak butuh energi. Apalagi membiarkan kualitas pelayanan PLN di Aceh terus menerus dapat cibiran sinis. Mati lampu saban hari tidak semestinya terjadi lagi. Apabila lupa, ingatlah 71 Tahun sudah Indonesia merdeka. Dan di tahun-tahun awal kemerdekaan yang susah bagi Indonesia, Aceh membelikan pesawat serta konon menyumbang emas tugu Monas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia layak disebut negara.
Sekarang, untuk men-supply energi ke rumah-rumah, agar para generasi berikutnya tetap dalam cahaya sewaktu belajar sembari orang tuannya mempersiapkan peralatan kerja beraktifitas keesokan harinya, Aceh sudah tidak mampu.
Jangan bicara membagi uang per KK, jangan janji membawa rakyat ber-Haji gratis, jangan “cet langet” membelikan kapal persiar. Tapi lakukan advokasi, koordinasi, lobi, serta gunakanlah uang rakyat yang dikelola untuk memastikan masa depan lebih baik, yaitu energi serta jaringannya. Utamanya energi terbarukan.
Hal ini akan menggiatkan banyak hal. Investasi dan industri akan lega, dan menatap Aceh sebagai daerah yang layak untuk dikunjungi, lalu menetap. Ketersedian energi adalah syarat yang tidak bisa ditolak. Catat.
Maka, Aceh pandanglah ke depan. Pegang erat tangan anak-anak mu. Melangkah lah. Aceh akan kembali Megah.
Penutup. Ini bukan kesimpulan. Ini bukan bedah visi-misi-program. Dari ke-enam calon Gubernur mampu mengembalikan ke-megah-an Aceh, baru dua yang memikirkan hal di atas. Dan dari alotnya diskusi pengesahan APBA 2017, pengesahan melalui mekanisme Penetapan Qanun adalah lebih baik.
Aceh lon, Aceh Gata, Aceh Indonesia, Aceh ban Sigom Donya!
Source:Â LinkedIn Article

Tinggalkan Balasan